Hari Sampah Nasional: Momentum Tingkatkan Sadar Sampah
M. Rizki Arfan
Rohil-NusaPos.Com- Bulan Februari merupakan bulan spesial bagi lingkungan karena pada bulan ini diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. Hari Peduli Sampah Nasional sendiri pertama kali ditetapkan pada tanggal 25 Debruari 2005, tepat setelah terjadinya longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Adanya peringatan ini diharapkan menjadi pemicu agar Indonesia bersih dari sampah.
Momen ini dapat kita manfaatkan untuk membangun kesadaran tentang pentingnya prinsip 3R (reduce, reuse dan recycle) dalam pengelolaan sampah agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.
Sampah memang merupakan salah satu permasalahan besar yang dihadapi kota-kota di seluruh dunia, termasuk Indonesia. National Geographic melaporkan masing-masing kota di dunia menghasilkan 1,3 miliar ton sampah setiap harinya. Diperkirakan oleh Bank Duni, jumlah ini akan bertambah hingga 2,2 miliar ton pada tahun 2025. Semakin tinggi jumlah penduduk dan aktivitasnya semakin meningkat pula jumlah sampah yang diproduksi. Hal ini memberikan dampak tidak hanya bagi kesehatan manusia tapi juga berdampak pada lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Pengelolaan sampah dimaksudkan agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia dan membahayakan lingkungan. Selain itu, pengelolaan sampah juga dimaksudkan agar kita dapat memperoleh manfaatnya karena sampah sebenarnya adalah sumber daya yang bisa dimanfaatkan atau bahkan memiliki nilai ekonomi. Namun pengelolaan sampah di Indonesia masih belum optimal dan masih menjadi masalah aktual dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk yang berdampak pada meningkatnya volume sampah. Dalam penelitiannya yang berjudul Municipal Solid Waste Management in Indonesia: Status and the Strategic Actin (2007), Chaerul dkk menganalisa permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah diantaranya kurangnya dasar hukum yang tegas, tempat pembuangan sampah yang memadai, kurangnya usaha dalam pengomposan, dan kurangnya pengelolaan TPA dengan sistem yang tepat.
---
Dikutip dari situs aa.com, pada tahun 2019 Indonesia menghasilkan 67 juta ton sampah yang didominasi oleh sampah organik dengan persentase 60%, sebagian besar merupakan sampah organik. Jumlah ini sangat besar dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Di Kots Pekanbaru pun demikian. Permasalahan sampah di Pekanbaru semakin memprihatinkan. Tumpukan sampah tidak hanya ditemukan di satu titik, melainkan ada di beberapa titik bahkan di kawasan jalan protokol. Permasalahan sampah ini sudah terjadi dari tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup Provinsi Riau tahun 2016, produksi sampah di Kota Pekanbaru mencapai 867,41 perhatinya sementara jumlah sampah yang terolah hanya sebanyak 31,23 ton perhari, sampah yang bisa ditimbun sebanyak 407,72 ton dan sisanya adalah sampah yang tidak terolah sebanyak 425,49 ton.
Dan data terbaru mengatakan produksi sampah di Kota Pekanbaru diperkirakan mencapai 1.000 ton perhari, dimana 800 ton diantaranya langsung dibuang ke TPA. Data tersebut menunjukkan produksi sampah di Kota Pekanbaru masih sangat besar dan pengurangan bahan-bahan yang menghasilkan sampah juga masih belum optimal di kalangan masyarakat.
---
Kurangnya peran masyarakat sebagai yang menghasilkan sampah menjadi faktor yang mempengaruhi kurangnya pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru. Salah satu penyebab kurangnya pengelolaan sampah karena masyarakat masih mencampurkan sampah organik dan anorganik dengan alasan nanti akan dicampur juga.
Penumpukan sampah tanpa dipilah lama-lama akan menyebabkan ledakan sampah. Ledakan ini terjadi karena sampah bercampur sehingga penguraiannya lambat dan berlangsung tanpa oksigen yang kemudian menghasilkan gas metana yang terjebak dalam tumpukan sampah. Hujan akan membuat sampah-sampah tersebut merenggang dan gas metana yang dihasilkan akan keluar naik dari tumpukan sampah tersebut. Gas metana apabila bersentuhan dengan udara bisa memicu ledakan besar. Hal ini pernah terjadi di TPS Bantargebang dan terjadi TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menewaskan 157 jiwa dan 137 rumah hancur. Sehingga hari tersebut ditetapkan sebagai hari peduli sampah sedunia untuk pertama kalinya.
Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk memaksimalkan pengelolaan sampah diantaranya:
Melibatkan banyak komunitas. Keikutsertaan anggota masyarakat berbasis komunitas akan sangat membantu dalam mengelola sampah. Komunitas mempunyai peranan penting dalam perubahan paradigma masyarakat. Probolinggo merupakan kota yang berhasil memaksimalkan peran komunitas dalam pengelolaan sampah dengan ditetapkannya kebijakan terkait dengan sistem pemilahan dan pengumpulan sampah serta fasilitas berupa pelatihan. Di Pekanbaru sendiri sudah ada beberapa komunitas peduli lingkungan yang cukup aktif melakukan gerakan peduli sampah yang tersebar baik itu di kampus maupun di masyarakat. Namun dikutip dari situs Bebassampah.id, baru ada dua komunitas yang terdaftar sebagai kolaborator dalam aksi bebas sampah.
Peran pemerintah. Pemda banyak memfasilitasi gerakan partisipasi masyarakat dengan melibatkan stakeholder dan kerjasama kemitraan dengan pihak ketiga baik tingkat kecamataan maupun RT/RW. Fasilitas dapat berupa pendanaan dan pelatihan terhadap aktivitas kelompok masyarakat yang peduli sampah sehingga memorivasi masyarakat dalam melakukan terobosan-terobosan dalam mengelola sampah. Selain itu, optimalisasi di bidang sarana dan prasarana juga sangat diperlukan untuk menunjang kinerja pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru. Saat ini Pekanbaru merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa. Berdasarkan data dari Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru, jumlah TPS yang ada hanya 12 titik yang tersebar di 4 kecamatan. Hal ini membuat masyarakat sulit membuang sampah pada tempatnya sehingga banyak ditemukan TPS ilegal yang ada di pasar, pinggir jalan bahkan di bahu jalan protokol. Selain itu, dengan populsai penduduk lebih dari 1 juta dan produksi sampah yang mencapai 1.000 ton perhari, Pekanbaru hanya mempunya satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal ini sangat disayangkan, karena walau bagaimanapun produksi sampah akan terus meningkat sehingga seluas apapun TPA nya pasti akan penuh jika pengelolaannya tidak tepat sehingga Pekanbaru membutuhkan lahan yang lebih lagi untuk dijadikan TPA.
Sarana dan prasarana ini juga tentunya akan menunjang kinerja petugas kebersihan.
Selain itu, pendekatan aktif dengan melibatkan masyarakat juga akan membantu pengelolaan sampah seperti pengadaan bank sampah. Keberadaan bank sampah akan membuka peluang bagi masyarakat mendapatkan nilai ekonomi.
Selama ini kita harus membayar retribusi agar sampah kita dikumpulkan. Jika kita menggunakan pendekatan bank sampah dan masyarakat dianjurkan untuk menjual sampah-sapah tersebut tentu tidak akan dibiarkan menumpuk.
---
Terlibat aktif sebagai masyarakat. Sebagai masyarakat kita juga harus meningkatkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Tentunya kita tidakbisa terus-terusan bergantung pada definisi pengelolaan sampah itu hanya membuang, mengumpulkan kemudian memindahkan ke TPA.
Pengelolaan sampah sebenarnya dapat dilakukan dengan sistem pengelolaan berbasis komunitas seperti Bank Sampah, pengomposan komunal dan daur ulang sampah. Namun hal ini tentu menuntut kesadaran dan peran kita sebagai masyarakat yang merupakan penghasil sampah. Untuk mengurangi produksi sampah, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan yang dikenal dengan prinsip 3R yaitu Reduse (pengurangan), Penggunaan Ulang (Reuse) dan Daur Ulang (recycle).
Pengurangan (reduse).pengurangan sampah dapat kita lakukan dengan langkah-langkah: pilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang, jangan membeli dan memakai produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar,gunakan produk refill,kurangi penggunaan bahan sekali pakai, jangan beli barang yang tidak diperlukan.
Penggunaan ulang (reuse). Yaitu bagaimana kita mengupayakan penggunaan dan memperpanjang usia penggunaan barang-barang dengan cara memanfaatkan lagi barang-barang yang sudah terpakai dan memperbaiki barang-barang yang sudah rusak. Dengan mengoptimalkan pengggunaan barang-barang tersebut, kita dapat mengurangi produksi sampah seperti sampah plastik.
Recycle (daur ulang). Kita dapat mengolah barang-barang yang tidak terpakai menjadi barang baru. Hal ini sudah sangat populer di kalangan masyarakat seperti pembuatan bunga dan tas dari sampah plastik, pembuatan kompos dari limbah rumah tangga, dan lain sebagainya.
Penulis : M. Rizki Arfan
Editor :Muhammad Sarbaini
Source : Penulis : M. Rizki Arfan